Beranda    Berita Sensus Penduduk 2020

Kembali

Publisitas SP September Harus Terorganisir dan Terstruktur

PUSAT | 19-08-2020    699




Kamis (13/8) - Sensus Penduduk 2020 (SP2020) memasuki babak baru. Setelah melewati pelaksanaan Sensus Penduduk Online (SP Online), tahapan selanjutnya adalah Sensus Penduduk September (SP September). Kegiatan yang akan dilaksanakan pada bulan September 2020 ini bakal melibatkan masyarakat secara langsung, pengurus SLS, dan petugas sensus dalam jumlah besar.

Kompleksitas pendataan dan perubahan proses bisnis di tengah situasi pandemi Covid-19 menjadi tantangan yang harus dihadapi. Keberhasilan pelaksanaan SP2020 merupakan tanggung jawab bersama. “Untuk menjawab tantangan tersebut, harus dilakukan publisitas yang tepat sasaran, terstruktur, dan terorganisir untuk menyukseskan gelaran SP September,” tutur Endang Retno Sri Subiyandani, Kepala Biro Humas dan Hukum BPS dalam rapat virtual dengan BPS Provinsi/ Kabupaten/Kota mengenai strategi publisitas SP September.

Publisitas SP September ini memiliki peranan yang krusial di tengah pandemi Covid-19, yang telah ditetapkan menjadi pandemi dunia oleh organisasi kesehatan dunia yaitu WHO (World Health Organization). Indonesia pun menetapkan COVID-19 ini menjadi bencana nasional non alam.

Persektif publisitas SPS pun tak luput dibingkai dengan mengedepankan protokol kesehatan. Memang dalam pelaksanannya nanti, BPS tentu memerhatikan kesehatan dari sisi petugas sensus dan sisi responden. Oleh karena itu, petugas sensus akan dilengkapi dengan masker, face shield, hand sanitizer dan dilakukan rapid test terlebih dahulu sebelum turun ke lapangan.

“Sedangkan dari narasi yang akan digunakan, tetap mengacu pada narasi besar nasional yaitu “Mencatat Indonesia” dengan tetap memerhatikan lima pilar komunikasinya,” ucap Eko Oesman, Kepala Bagian humas BPS. Penambahan beberapa poin untuk menonjolkan pesan protokol kesehatan juga dilakukan dalam publisitas SP September.

Selain tantangan COVID-19, anggaran yang terbatas pun menjadi kendala siginifikan dalam publisitas yang akan dilakukan. BPS pusat pun sudah merancang beberapa publisitas berbayar (penayangan berbayar di media online dan media sosial, kuis dan give away, penayangan iklan di media cetak, talkshow di televisi, produksi dan penayangan media luar ruang, dan produksi konten) serta publisitas tidak berbayar (memanfaatkan media sosial BPS, pemanfaatan Whatsapp Group, koordinasi dengan Kemendagri, Bakohumas, Iprahumas, admin k/l, serta melakukan kerjasama dengan berbagai komunitas).

Pada akhirnya semua yang akan dilakukan ini akan bisa berhasil dengan adanya kolaborasi antara BPS pusat dan daerah. Semoga apa yang sudah direncanakan mampu meningkatkan partisipasi masyarakat Indonesia dalam Sensus Penduduk September yang datanya akan berguna untuk pembangunan Indonesia.