| Nomor Katalog | : | 8305002 |
| Nomor Publikasi | : | 06300.25007 |
| ISSN/ISBN | : | 2476-9134 |
| Frekuensi Terbit | : | Tahunan |
| Tanggal Rilis | : | 29 Agustus 2025 |
| Bahasa | : | Indonesia dan Inggris |
| Ukuran File | : | 19.74 MB |
Abstraksi
Statistik Telekomunikasi Indonesia menyajikan data
mengenai perkembangan sektor telekomunikasi di Indonesia, yang mencakup tingkat
penetrasi internet, kepemilikan sarana teknologi informasi dan komunikasi
(TIK), pola penggunaannya, serta data mengenai jaringan dan layanan
telekomunikasi. Statistik ini memuat perkembangan internet di Indonesia, baik
dari sisi penyedia layanan maupun pengguna.Menurut data BPS dari hasil pendataan Survei Susenas 2024,
terdapat 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet di tahun 2024
dan 69,21 persen di tahun 2023. Tingginya penggunaan internet ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki akses yang lebih luas
terhadap sumber informasi dan menjadi indikator kesiapan suatu negara atau
wilayah dalam menghadapi era transformasi digital.Tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia tidak
terlepas dari pesatnya perkembangan telepon seluler. Pada tahun 2024 tercatat 68,65
persen penduduk di Indonesia telah memiliki telepon seluler. Angka ini
mengalami sedikit peningkatan jika
dibandingkan dengan kondisi tahun 202 yang mencapai 67,29 persen.Berbanding terbalik dengan perkembangan penggunaan
telepon seluler yang terus meningkat dari tahun ke tahun, penggunaan telepon
tetap kabel justru menunjukkan tren penurunan. Pada tahun 2024, tercatat hanya 0,99 persen rumah
tangga yang memiliki/menguasai telepon tetap kabel, menurun jika dibandingkan
dengan tahun 2023 yang sebesar 1,17 persen.Kepemilikan komputer dalam rumah tangga tahun 2024 mengalami
sedikit peningkatan jika dibandingkan dengan tahun 2023, yaitu sebesar 18,52 persen
di tahun 2024 dan 18,06 persen di tahun 2022.Pertumbuhan nilai ekspor barang TIK menunjukkan pola
yang fluktuatif sepanjang tahun 2022 hingga 2024. Pada awal periode tersebut,
ekspor barang TIK mencatatkan pertumbuhan positif, namun mengalami penurunan
dalam dua tahun terakhir, yakni pada tahun 2023 dan 2024. Pada tahun 2024,
nilai ekspor barang TIK Indonesia tercatat sebesar AS$7.371 juta, turun sebesar
2,22 persen dibandingkan tahun 2023 yang mencapai AS$7.538 juta. Tren penurunan
selama dua tahun terakhir ini mengindikasikan melemahnya kinerja sektor TIK
dalam mendukung ekspor nasional, serta menegaskan perlunya evaluasi terhadap
daya saing dan ketahanan industri TIK di tengah dinamika ekonomi global yang
terus berubah.Pertumbuhan impor barang TIK menunjukkan pola yang
fluktuatif sepanjang periode 2020–2024. Pada tahun 2024, nilai impor tercatat
sebesar US$13.552 juta, meningkat sebesar 4,59 persen dibandingkan tahun
sebelumnya. Di tahun 2024, sebagian besar impor barang TIK adalah kelompok
komponen elektrik (electric component) sebesar US$4.939 juta dan
kelompok komputer dan perangkat pendukung (computers and peripheral equipment)
sebesar US$4.650 juta. Hal ini mengindikasikan beberapa kemungkinan, antara
lain meningkatnya aktivitas perakitan atau produksi perangkat elektronik di
dalam negeri. Selain itu, tingginya nilai impor komputer dan perangkat
pendukung dapat mencerminkan meningkatnya kebutuhan akan infrastruktur digital,
baik di sektor pemerintahan, pendidikan, maupun industri.
Dalam struktur Produk Domestik Bruto (PDB), sektor informasi
dan komunikasi menunjukkan ketahanan dan konsistensi pertumbuhan yang kuat
selama lima tahun terakhir. Sektor ini memiliki pertumbuhan tertinggi keenam pada 2024 yaitu sebesar 7,57 persen yang mencerminkan
stabilnya permintaan terhadap layanan digital. Di sisi lain, meskipun memiliki
peran strategis dalam mendukung transformasi digital dan inovasi, sektor
informasi dan komunikasi belum memberikan kontribusi signifikan terhadap PDB.
Dalam lima tahun terakhir, kontribusinya tercatat di bawah lima persen, dan
pada tahun 2024 hanya mencapai 4,34 persen, menempatkannya di posisi ketujuh
dalam struktur ekonomi nasional.