Badan Pusat StatistikBadan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik

Dalam rangka percepatan transformasi tata kelola penyelenggaraan pemerintahan, layanan kunjungan langsung PST pada hari Jumat dialihkan menjadi layanan online: pst.bps.go.id

Tabel Publikasi Indikator Kependudukan SUPAS 2025 telah tersedia dalam bentuk Tabel Statistik yang dapat diakses pada Menu Produk > Direktori. Klik disini untuk mengakses laman tersebut.

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

Surplus Neraca Perdagangan di Awal Tahun 2026

Surplus Neraca Perdagangan di Awal Tahun 2026

Surplus Neraca Perdagangan di Awal Tahun 2026

3 Maret 2026 | Kegiatan Statistik Lainnya


Jakarta, (2/3)- Neraca perdagangan Indonesia mengawali tahun 2026 dengan kinerja positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus neraca perdagangan sebesar US$0,95 miliar pada Januari 2026. Hal ini menandai surplus yang telah berlanjut selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.


Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa surplus tersebut ditopang oleh kinerja positif perdagangan komoditas nonmigas, sementara perdagangan migas masih mengalami defisit. 


”Pada bulan Januari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus US$0,95 miliar. Angka ini ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$3,22 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$2,27 miliar,” jelas Ateng pada konferensi pers di Jakarta, Senin (2/3).


Ia melanjutkan bahwa nilai ekspor pada Januari 2026 adalah US$22,16 miliar, mengalami kenaikan 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang tumbuh hingga 8,19 persen ( y-on-y ).


”Nilai ekspor industri pengolahan naik 8,19 persen pada Januari 2026 ( y-on-y) dengan andil peningkatan sebesar 6,54 persen,”jelas Ateng. 


BPS mencatat tiga negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 persen pada Januari 2026. Tiongkok masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai US$5,27 miliar (24,80 persen), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar US$2,51 miliar (11,82 persen) dan India sebesar US$1,52 miliar (7,15 persen). 


Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada Januari 2026 didominasi oleh besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat sebagian besar merupakan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya (rajutan). 


Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat US$21,20 miliar, atau naik 18,21 persen dari Januari 2025 ( y-on-y ). Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar US$18,04 miliar, naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025. Impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52 persen ( y-on-y ). Kondisi ini menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar US$3,17 miliar.


Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat US$14,88 miliar, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025. Sementara impor barang modal tercatat sebesar US$4,49 miliar, atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. 


BPS melaporkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,92 persen. Tiongkok masih menjadi negara utama dengan nilai impor US$7,89 miliar (43,75 persen), diikuti oleh Australia sebesar US$1,07 miliar (5,92 persen) dan Jepang sebesar US$0,95 miliar (5,25 persen). Impor dari Tiongkok utamanya berupa mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik. 


Selanjutnya, surplus perdagangan nonmigas pada Januari 2026 sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (US$3,10 miliar), bahan bakar mineral (US$2,16 miliar), besi dan baja (US$1,51 miliar), nikel dan barang daripadanya (US$1,03 miliar), serta alas kaki (US$0,49 miliar).


Terjadi Inflasi pada Bulan Februari 2026


 BPS mencatat pada bulan Februari 2026 terjadi inflasi sebesar 0,68 persen ( m-to-m ) atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,75 pada Januari 2026 menjadi 110,50 pada Februari 2026. Sementara tahun lalu, pada bulan Februari terjadi deflasi sebesar 0,48 persen. Secara tahun kalender, inflasi masih terjaga pada angka 0,53 persen. 


”Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 1,54 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 0,45 persen. Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah daging ayam ras dengan andil inflasi 0,09 persen, cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,08 persen, ikan segar dengan andil inflasi 0,05 persen, cabai merah dengan andil inflasi 0,04 persen, lalu tomat, beras dan telur ayam ras dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen,” rinci Ateng. 


Selain itu, terdapat komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Februari 2026, yaitu bensin dengan andil deflasi 0,05 persen.


Berdasarkan komponen, inflasi bulan Februari 2026 utamanya didorong oleh inflasi komponen bergejolak dengan andil inflasi 0,41 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah daging ayam ras, cabai rawit, dan cabai merah. Selanjutnya, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,27 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah emas perhiasan, minyak goreng, mobil dan nasi dengan lauk.


Sementara itu, untuk komponen harga diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,03 persen dengan andil inflasi hampir 0 persen. Namun demikian, terdapat komoditas yang dominan memberikan andil deflasi pada komponen ini yaitu bensin. 


Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 33 provinsi mengalami inflasi, sedangkan 5 provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Sulawesi Selatan sebesar 1,04 persen. Adapun deflasi terdalam terjadi di Papua Barat sebesar 0,65 persen.


Pada rilis kali ini, BPS secara khusus melaporkan perkembangan inflasi pada momen Ramadan. Berdasarkan historis lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi pada momen Ramadan dengan besaran yang berfluktuasi.


”Tingkat inflasi Februari 2026 yang bertepatan dengan momen Ramadan ini masih lebih rendah dibandingkan momen Ramadan 2022 (April 2022) dan Ramadan 2025 (Maret 2025),” jelas Ateng. Ia melanjutkan bahwa secara umum, komoditas bergejolak serta komoditas dari kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi komoditas penyebab utama inflasi di setiap momen Ramadan.


Secara tahunan ( y-on-y ), inflasi Februari 2026 tercatat sebesar 4,76 persen, berbanding terbalik dengan kondisi pada Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09 persen. BPS menjelaskan bahwa kondisi ini salah satunya disebabkan oleh adanya low-base effect , sebagaimana terjadi pada inflasi tahunan Januari 2026. Pada Januari-Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik, sehingga level harga pada periode tersebut berada di bawah tren normal dan menekan IHK. Kebijakan tersebut tidak ditemui pada awal tahun 2026. Akibatnya, pada Februari 2026, tingkat inflasi tahunan terlihat lebih tinggi meskipun dinamika harga sesungguhnya relatif sejalan dengan tren fundamental.


Dampak low-base effect ini terlihat dari tingginya angka inflasi tahunan kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Februari 2026 yang mencapai 16,19 persen, dengan andil inflasi sebesar 2,26 persen. Lebih lanjut, BPS melaporkan bahwa kelompok makanan, minuman dan tembakau juga mengalami inflasi tahunan 3,51 persen atau memberikan andil inflasi sebesar 1,05 persen. Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan tercatat mengalami deflasi 0,09 persen atau memberikan andil inflasi hampir 0 persen.


Menurut wilayah, seluruh provinsi mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu 6,94 persen, dan inflasi terendah terjadi di Papua Pegunungan, yaitu 0,63 persen.


Nilai Tukar Petani Naik 


Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Februari 2026 mencapai 125,45 atau naik 1,50 persen dibanding Januari 2026. Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik 2,17 persen, masih lebih tinggi dibandingkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) yang mengalami kenaikan 0,65 persen.


Selain itu, BPS juga mencatat terjadinya kenaikan rata-rata harga beras tingkat grosir dan eceran, masing-masing sebesar 0,45 persen dan 0,43 persen. Adapun rata-rata harga beras di tingkat penggilingan turun 0,33 persen.


Produksi Padi dan Jagung Meningkat


Realisasi luas panen padi pada bulan Januari 2026 mencapai 0,57 juta hektare atau naik 35,72 persen dibanding Januari 2025 (0,42 juta hektare). Kenaikan luas panen ini diikuti pula oleh peningkatan produksi padi pada Januari 2026 yang mencapai 3,04 juta ton GKG, atau naik 38,69 persen dibandingkan Januari 2025. 


BPS selanjutnya melaporkan potensi luas panen padi untuk tiga bulan ke depan. Pada periode Februari-April 2026, BPS memperkirakan luas panen padi mencapai 3,92 juta hektare atau mengalami penurunan seluas 0,16 juta hektare, sekitar 3,87 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, potensi produksi padi pada Februari-April 2026 diperkirakan mencapai 21,24 juta ton GKG, atau turun 4,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Adapun produksi beras pada Februari-April 2026 diperkirakanturun 4,02 persen menjadi sebesar 12,23 juta ton beras.


”Angka potensi luas panen dapat berubah sesuai kondisi terkini hasil amatan lapangan seperti serangan hama, banjir, kekeringan, waktu realisasi panen, dan lain sebagainya,” jelas Ateng.


Selanjutnya, realisasi luas panen jagung pada Januari 2026 mencapai 0,24 juta hektare atau naik sekitar 11,17 persen dibandingkan Januari 2025. Sementara itu, produksi jagung pada Januari 2026 mencapai 1,38 juta ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen) atau naik 11,09 persen dibandingkan Januari 2025.


Kunjungan Wisatawan Mancanegara Meningkat 


Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia melalui pintu masuk utama pada Januari 2026 tercatat sebesar 1,01 juta kunjungan, atau naik 1,11 persen dibandingkan Januari 2025 ( y-on-y ).Pintu masuk utama terdiri dari bandar udara internasional, pelabuhan laut internasional, serta pos lintas batas (PLB).  


Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis oleh BPS adalah jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus). Pada Januari 2026, jumlah perjalanan wisnus tercatat mencapai 102,04 juta perjalanan, atau turun 0,93 persen dari Januari 2025. 


Penumpang Beberapa Moda Transportasi Tetap Tumbuh


 Pada Januari 2026, jumlah penumpang angkutan kereta mencapai 48,10 juta orang, atau naik 10,94 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan penumpang juga terjadi pada angkutan udara internasional sejumlah 1,77 juta orang, atau naik 2,04 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.


Sementara itu, keberangkatan penumpang angkutan udara domestik tercatat 4,92 juta orang, atau turun 3,33 persen. Jumlah penumpang angkutan laut domestik juga mengalami penurunan 0,55 persen menjadi 2,61 juta penumpang. Jumlah penumpang angkutan sungai, danau dan penyeberangan (ASDP) tercatat 4,29 juta orang, atau turun 3,67 persen.


BPS juga mencatat, pada Januari 2026, jumlah barang yang diangkut menggunakan moda angkutan laut domestik mencapai 37,49 juta ton, atau turun 1,05 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah barang yang diangkut kereta tercatat 5,33 juta ton atau turun 7,90 persen. Selanjutnya, jumlah barang yang diangkut angkutan udara domestik tercatat 53,0 ribu ton atau turun 13,01 persen dibandingkan Januari 2025.


Narahubung Media----------------------------------------------------------------------------------------------------

Favten Ari Pujiastuti 

Kepala Biro Humas dan Hukum 

Badan Pusat Statistik 

[email protected] 

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik(BPS - Statistics Indonesia)

Jl. Dr. Sutomo 6-8

Jakarta 10710 Indonesia

Telp (62-21) 3841195; 3842508; 3810291

Faks (62-21) 3857046

Mailbox : [email protected]

logo_footer

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik