Berita Terkait

Badan Pusat Statistik
Badan Pusat Statistik(BPS - Statistics Indonesia)
Jl. Dr. Sutomo 6-8
Jakarta 10710 Indonesia
Telp (62-21) 3841195; 3842508; 3810291
Faks (62-21) 3857046
Mailbox : bpshq@bps.go.id
1 Agustus 2025 | Kegiatan Statistik Lainnya
Jakarta, (1/8)- Kinerja positif neraca perdagangan Indonesia kembali berlanjut. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus US$19,48 miliar sepanjang periode Januari hingga Juni 2025, atau naik US$3,90 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu. Indonesia telah mencatatkan surplus selama 62 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Secara rinci,nilai ekspor sepanjang Januari-Juni 2025 tercatat US$135,41 miliar, lebih tinggi dibandingkan impor yang mencapai US$115,94 miliar.
”Surplus sepanjang Januari–Juni 2025 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas sebesar US$23,81 Miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$8,83 Miliar ”, ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, dalam konferensi pers di Jakarta.
Nilai ekspor Januari-Juni 2025 naik 7,70 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pudji menjelaskan, peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mencatat nilai ekspor sebesar US$107,60 miliar, atau naik 16,57 persen.
Kinerja positif sejumlah komoditas unggulan masih berlanjut sepanjang Januari-Juni 2025. Ekspor besi dan baja capai US$13,79 miliar, naik 9,79 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya naik 24,81 persen menjadi US$11,43 miliar. Namun, tak semua komoditas unggulan mencatat kinerja positif. Ekspor batubara turun 21,09 persen menjadi US$11,97 miliar. ”Total ketiganya memberikan share sekitar 28,97 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari–Juni 2025”, jelas Pudji.
Pudji melanjutkan, ”Tiga besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah Tiongkok, Amerika Serikat, dan India. Share ketiga negara ini sekitar 41,34 persen dari total ekspor non migas Indonesia pada Januari-Juni 2025”. Tiongkok tetap menjadi pasar ekspor utama komoditas non migas Indonesia dengan nilai mencapai US$29,31 miliar (22,83 persen), disusul Amerika Serikat sebesar US$14,79 miliar (11,52 persen) dan India sebesar US$8,97 miliar (6,99 persen). Ekspor ke Tiongkok didominasi oleh besi dan baja, bahan bakar mineral, serta produk nikel. Sementara ekspor ke Amerika Serikat didominasi oleh mesin dan perlengkapan elektrik, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya.
Dari sisi impor, nilai impor Indonesia pada Januari-Juni 2025 mencapai US$115,94 miliar atau meningkat 5,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Penyumbang utama masih berasal dari sektor non migas, dengan nilai impor US$100,07 miliar, naik 8,60 persen. Sedangkan impor sektor migas mengalami penurunan sebesar 11,91 persen menjadi US$15,86 miliar. Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor terjadi pada bahan baku atau penolong, serta barang modal. ”Nilai impor barang modal, sebagai andil utama peningkatan impor, mencapai US$23,00 miliar atau naik 20,90 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu”, rinci Pudji.
Sepanjang periode Januari-Juni 2025, Tiongkok menjadi negara utama asal impor non migas Indonesia dengan nilai US$40,00 miliar (39,97 persen), diikuti Jepang sebesar US$7,47 miliar (7,47 persen), dan Amerika Serikat sebesar US$4,87 miliar (4,86 persen). Impor dari Tiongkok didominasi oleh mesin dan peralatan mekanis, mesin dan perlengkapan elektrik, serta kendaraan dan bagiannya.
Surplus perdagangan nonmigas sepanjang enam bulan pertama tahun ini sebagian besar ditopang oleh lima komoditas utama, yaitu lemak dan minyak hewani/nabati (US$15,74 miliar), bahan bakar mineral (US$13,28 miliar), besi dan baja (US$9,04 miliar), produk nikel (US$3,99 miliar), serta alas kaki (US$3,18 miliar).
Dari sisi negara mitra, periode Januari-Juni 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas tertinggi dengan Amerika Serikat (US$9,92 miliar), India (US$6,64 miliar), dan Filipina (US$4,36 miliar). Komoditas penyumbang surplus terbesar dengan Amerika Serikat adalah mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, dan pakaian dan aksesorisnya.
Sebaliknya, masih pada periode Januari-Juni 2025, defisit terdalam perdagangan non migas tercatat dengan Tiongkok (US$10,69 miliar), Australia (US$2,39 miliar), dan Brasil (US$0,83 juta). Defisit terbesar dengan Tiongkok disumbang oleh mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya, mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, dan kendaraan dan bagiannya.
Untuk bulan Juni saja, nilai ekspor mencapai US$23,44 miliar, naik 11,29 persen dibanding Juni 2024. Sementara nilai impor mencapai US$19,33 miliar, naik 4,28 persen dibanding Juni 2024.
Inflasi pada bulan Juli 2025
BPS mencatat pada bulan Juli 2025 terjadi inflasi sebesar 0,30 persen (m-to-m). ”Terjadi kenaikan indeks harga konsumen (IHK) dari 108,27 pada Juni 2025 menjadi 108,60 pada Juli 2025”, jelas Pudji. Kondisi ini berbeda dibandingkan Juli 2024, dimana terjadi deflasi sebesar 0,18 persen. Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 2,37 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 1,69 persen.
Kelompok pengeluaran penyumbang inflasi bulanan terbesar adalah makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 0,74 persen, dengan andil inflasi sebesar 0,22 persen. Kelompok pendidikan mengalami inflasi 0,82 persen dengan andil inflasi sebesar 0,05 persen. Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Juli 2025 mengalami inflasi sebesar 0,11 persen dan memberikan andil inflasi 0,02 persen. Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 0,07 persen dan memiliki andil inflasi 0,01 persen.
”Berdasarkan komponen, inflasi bulan Juli 2025 utamanya didorong oleh inflasi komponen harga bergejolak dengan andil inflasi sebesar 0,20 persen”, jelas Pudji. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah beras, tomat, bawang merah, dan cabai rawit. Selanjutnya, komponen inti memberikan andil inflasi sebesar 0,08 persen, dengan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah biaya SD, biaya SMP, biaya SMA, biaya bimbingan belajar, dan biaya taman kanak-kanak. Sedangkan komponen harga diatur pemerintah memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen, dengan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah bensin, bahan bakar rumah tangga, dan sigaret kretek mesin (SKM).
Menurut wilayah, secara bulanan tercatat 37 provinsi mengalami inflasi, dan 1 provinsi mengalami deflasi. ”Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan, yaitu sebesar 1,65 persen. Sedangkan deflasi terdalam terjadi di Papua, yaitu sebesar 0,34 persen", lanjut Pudji.
Nilai Tukar Petani naik
BPS turut mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juli 2025 yang mencapai 121,64, atau naik 0,76 persen dibanding Juni 2025. ” Peningkatan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,18 persen, sementara indeks harga yang dibayar petani (Ib) naik sebesar 0,42 persen”, ujar Pudji. Selain itu, BPS juga mencatat kenaikan rata-rata harga beras baik ditingkat penggilingan, grosir maupun eceran, masing-masing sebesar 2,71 persen, 1,59 persen dan, 1,35 persen (m-to-m).
Kunjungan wisatawan mancanegara meningkat
Angka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada Juni 2025 tercatat mencapai 1,42 juta kunjungan atau naik 18,20 persen dibandingkan Juni 2024 yang sebanyak 1,20 juta kunjungan. ”Secara kumulatif sepanjang Januari hingga Juni 2025, total kunjungan wisman mencapai 7,05 juta kunjungan, atau meningkat 9,44 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024”, ungkap Pudji. Pudji selanjutnya merinci bahwa kunjungan wisman pada Juni 2025 paling banyak dilakukan oleh wisatawan berkebangsaan Malaysia (16,70 persen), Singapura (13,0 persen), dan Australia (10,9 persen). Rata-rata pengeluaran wisman per kunjungan pada triwulan II ini mencapai US$1.199,71, dengan proporsi pengeluaran terbesar adalah untuk akomodasi (37,48 persen) dan makan minum (19,53 persen).
Indikator pariwisata selanjutnya yang dirilis oleh BPS adalah jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus), yang pada Juni 2025 tercatat mencapai 105,12 juta perjalanan, atau naik 25,93 persen dari Juni 2024. ”Secara kumulatif, sepanjang Januari sampai Juni 2025, jumlah perjalanan wisnus mencapai 613,78 juta perjalanan, atau meningkat 17,70 persen dibanding periode yang sama tahun lalu”, jelas Pudji.
Selanjutnya, pada Juni 2025, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke luar negeri atau wisatawan nasional (wisnas) mencapai 727,6 ribu perjalanan, atau turun 15,02 persen dibandingkan Juni 2024. Secara kumulatif, hingga Juni 2025, jumlah perjalanan wisnas mencapai 4,57 juta perjalanan, naik 3,25 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Jumlah penumpang di sejumlah moda transportasi meningkat
BPS mencatat, pada Juni 2025 jumlah penumpang angkutan udara internasional mencapai 1,66 juta orang, atau naik 5,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan keberangkatan penumpang juga terjadi pada moda kereta, angkutan laut domestik, dan angkuran sungai, danau dan penyeberangan (ASDP). Jumlah penumpang kereta yang berangkat tercatat 45,61 juta orang, naik 8,79 persen dibandingkan Juni 2024. Sedangkan penumpang angkutan laut domestik mencapai 2,75 juta orang, atau naik 18,68 persen dibandingkan tahun lalu. Dan penumpang ASDP mencapai 4,84 juta orang, atau naik 4,92 persen.
Sementara itu, jumlah penumpang domestik yang berangkat mencapai 5 juta orang, turun 7,98 persen dibandingkan Juni 2024.